Selamat Datang di Web Rizki, S.Si., M.P., Dosen Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Pembina mata kuliah Morfologi Tumbuhan, Taksonomi Tumbuhan Tinggi, Biologi Umum, Ekologi Tumbuhan, Pengantar Laboratorium, dan Pengantar Bioteknologi. email: khi_bio@yahoo.com dan khibio3@gmail.com

Seminar dan Lomba Biologi (Selob 3), tk Sumbar dan Bengkulu 19 November 2016

(klik gambar untuk memperbesar)

Seminar Nasional dan Lomba Biologi ke 3 tingkat SMA/MA se Sumbar dan Bengkulu

Penyisihan : 19 November 2016
SemiFinal : 25 November 2016
Final : 26 November 2016

Tumbuhan Mangrove Berdasarkan Pasang Surut

Ekosistem hutan bakau di suatu kawasan berbeda berdasarkan faktor lingkungan dan spesies. Watson dan De Haan (1928) dalam Kamal (2008) mengklasifikasikan hutan bakau serta spesies tumbuhan bakau berdasarkan kelas- kelas lamanya digenangi oleh air pasang surut.
  1. Kawasan pantai digenangi oleh semua air pasang tinggi (all high tides). Kelas ini meliputi kawasan berlumpur yang selalu digenangi oleh air payau atau air laut di tempat seperti ini jarang jenis mangrove yang mampu hidup, kecuali Rhizophora mucronata.

Tipe Pasang Surut berdasarkan Periode dan Keteraturannya

Tiga tipe dasar pasang-surut yang didasarkan pada periode dan keteraturannya, yaitu sebagai berikut: 
  1. Pasang-surut tipe harian tunggal (diurnal type): yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat 1 kali pasang dan 1 kali surut. 
  2. Pasang-surut tipe tengah harian/harian ganda (semi diurnal type): yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat 2 kali pasang dan 2 kali surut. 
  3. Pasang-surut tipe campuran (mixed tides): yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat bentuk campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau condong ke tipe harian ganda.

Pengaruh Pasang Terhadap Vegetasi Mangrove

Pasang yang terjadi di kawasan mangrove sangat menentukan zonasi tumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove Secara rinci pengaruh pasang terhadap pertumbuhan mangrove dijelaskan sebagai berikut: 
  1. Lama pasang, terjadinya pasang di kawasan mangrove dapat mempengaruhi perubahan salinitas air dimana salinitas akan meningkat pada saat pasang dan sebaliknya akan menurun pada saat air laut surut.

Pasang dan Surut Air Laut

Pasang surut sering disingkat dengan pasut adalah gerakan naik turunnya permukaan air laut secara berirama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Matahari mempunyai massa 27 juta kali lebih besar dibandingkan dengan bulan, tetapi jaraknya sangat jauh dari bumi (rata-rata 149,6 juta km) sedangkan bulan sebagai satelit bumi berjarak (rata-rata 381.160 km). Dalam mekanika alam semesta jarak sangat menentukan dibandingkan dengan massa, oleh sebab itu bulan lebih mempunyai peran besar dibandingkan matahari dalam menentukan pasut. Secara perhitungan matematis daya tarik bulan lebih kurang 2,25 kali lebih kuat dibandingkan matahari (Nontji, 1987).

Pasang Surut pada Ekosistem Mangrove

Pasang surut memiliki peranan penting dalam ekosistem hutan mangrove, selain berperan dalam penyebaran biji mangrove juga berperan sebagai media tumbuh biji (Soviana, 2004). Menurut Kartawinata (1978) dalam Supardjo (2008), Rhizophora sp., Ceriops decandra, dan Avicennia sp. memiliki kerapatan mangrove tertinggi pada tingkat sapihan. Kondisi ini dikarenakan pada Rhizophora sp. Penyebaran biji ke tempat lain karena adanya pengaruh kuat dari pasang surut air laut. Menyatakan bahwa, pertumbuhan biji terapung di atas air dan disebarkan ke berbagai tempat, serta biji berakar pada ujungnya dan menambatkan diri pada lumpur pada waktu air surut, kemudian tumbuh tegak. Tingkat semai didominasi oleh Ceriops decandra, Rhizophora sp. dan Avicennia sp. 

Pasang dan Surut Air Laut

Pasang surut sering disingkat dengan pasut adalah gerakan naik turunnya permukaan air laut secara berirama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Matahari mempunyai massa 27 juta kali lebih besar dibandingkan dengan bulan, tetapi jaraknya sangat jauh dari bumi (rata-rata 149,6 juta km) sedangkan bulan sebagai satelit bumi berjarak (rata-rata 381.160 km). Dalam mekanika alam semesta jarak sangat menentukan dibandingkan dengan massa, oleh sebab itu bulan lebih mempunyai peran besar dibandingkan matahari dalam menentukan pasut. Secara perhitungan matematis daya tarik bulan lebih kurang 2,25 kali lebih kuat dibandingkan matahari (Nontji, 1987).

Agihan Jenis Mangrove

Agihan jenis merupakan pola persebaran jenis tumbuhan yang ditemui pada hutan mangrove dan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap agihan jenis hutan mangrove adalah pasang surut (Rahmi, 2012).

Hutan mangrove meliputi pohon-pohonan dan semak yang terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga (Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, & Canocarpus)

Pemanfaatan Vegetasi Mangrove di Indonesia

Beberapa ahli mendefenisikan bahwa hutan mangrove memiliki manfaat untuk kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang, angin dan badai. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman, bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut, serta menunjang kegiatan perikanan pantai

Pengertian Etnobotani

Etnobotani adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal-balik secara menyeluruh antara masyarakat lokal dan lingkungannya meliputi sistem pengetahuan tentang sumber daya alam tumbuhan. Hutan tropika adalah salah satu sumber alam hutan yang terluas di dunia yang diharapkan dapat terus berperan sebagai paru-paru dunia yang mampu meredam perubahan iklim global (Tim Studi Etnobotani, 2004).

Sonneratia caseolaris (Pedada Merah)

Sonneratia adalah sejenis pohon penghuni rawa-rawa tepi sungai dan hutan bakau, sering didapati di hutan-hutan bakau di bagian yang bersalinitas rendah dan berlumpur dalam, di sepanjang tepian sungai dan juga di rawa-rawa yang masih dipengaruhi pasang surut air laut. Contoh species dari Sonneratia adalah S. caseolaris (Pidada merah), S. alba dan S. apetalae (Alwinsyah dkk, 2010).

Mangrove Kerdil (Dwarf Mangrove)

Mangrove kerdil (dwarf mangrove) adalah hutan mangrove yang ditumbuhi oleh sekelompok pohon yang pendek, kanopi tipis, dan produktivitas kurang. Tinggi mangrove kerdil sekitar 1,5 m, zona transisi dicirikan oleh gradien tinggi dan kehadiran berbagai mangrove, seperti Avicennia (L.) Stearns (Avicenniaceae), dan Laguncularia racemosa (L.) Gaertn. f. (Combretaceae), yang memisahkan zona pinggiran dan kerdil. Zona pinggiran adalah pohon yang tinggi (tingginya minimal sekitar 7 m), kanopi tebal, dan produktivitas lebih dibandingkan dengan mangrove kerdil (Fang and Chou, akses 2011).

Struktur Hutan Mangrove

Mangrove umumnya tumbuh dalam 4 zona, yaitu:

a. Zona Api-Api dan Perepat

Terletak paling luar/jauh atau terdekat dengan laut, keadaan tanah berlumpur agak lembek (dangkal), sedikit bahan organik dan kadar garam agak tinggi. Zonasi ini biasanya didominasi oleh jenis Api-Api (Avicenna spp) dan Prepat (Sonneratia spp), biasanya berasosiasi dengan jenis bakau (Rhizophora spp).

Ekosistem Mangrove

Hutan mangrove umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir. Daerahnya tergenang air laut secara berkala, frekuensi genangan akan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove. Mendapat pasokan air tawar yang cukup dari darat. Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Airnya bersalinitas payau (2-22 permil) hingga asin (mencapai 38 permil) (Bengen, 2002).

Pengertian Hutan Mangrove

Mangrove dalam bahasa inggris digunakan untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu jenis tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut

Mikoriza

sumber: www.good4plants.com
sumber: www.good4plants.com
Istilah mikoriza diambil dari bahasa yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza), Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualisme antara cendawan dengan perakaran tumbuh-tumbuhan tinggi. Cendawan menyerang akar tanaman tetapi tidak bersifat parasit,

Budidaya Jagung


Menurut Rukmana, (1997) kuantitas dan kualitas produksi jagung akan optimal jika menerapkan teknik budidaya yang tepat sesuai dengan anjuran.

Biologi Tanaman Jagung (Zea mays)


Jagung merupakan tanaman semusim berumur pendek, Jagung pertama kali di kenal di Indonesia pada abad III yang dibawa oleh Portugis dan Spanyol (Rukmana, 1997). Tanaman jagung termasuk Kingdom Plantae, Divisio Spermatophyta, Subdivisio Angiospermae, Classis Monocotyledoneae, Ordo Poales (Glumiflorae), Familia Poaceae (Gramineae), Genus Zea, Species Zea mays L.

Pupuk Organik Kascing (Feses cacing)

Kandungan bahan organik didalam tanah perlu dipertahankan agar jumlahnya tidak berkurang dan hal itu dapat dilakukan dengan pemberian pupuk organik, walaupun kandungan unsur hara didalam anorganik jauh lebih besar, namun hingga sekarang pupuk organik tetap digunakan karena fungsinya belum tergantikan oleh pupuk anorganik. Meskipun dalam jumlah yang kecil pupuk organik mampu menyediakan unsur hara makro dan mikro (Jumun,2002)

Budidaya Tanaman Kentang (Solanum tuberosum)


Persiapan Bibit
  1. Dipilih bibit yang tua dengan ciri kulit umbi kuat (tidak mengelupas atau tidak gampang dikelupas). Selain itu, juga dipilih umbi yang kulitnya mulus dan tidak cacat.
  2. Bobot umbi kentang untuk bibit dapat yang berukuran 30-45/50 gram atau 45/50-60 gram. Kalau besarnya diukur rata-rata antara 30-35 mm atau 45-50 mm, dan konon yang bagus 55 mm.
  3. Jumlah mata tunas sekitar 3-5 mata.
  4. Bila penanaman sudah dilakukan, lantas diketahui ada gejala serangan penyakit, segera tanaman ini dibuang.

Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kentang (Solanum tuberosum)

Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) termasuk kingdom (kerajaan) Plantae, divisio Spermatophyta, subdivisio Angiospermae, classis Dicotyledonae, ordo (bangsa) Solanales, suku (familia) Solanaceae, genus (marga) Solanum, dan species Solanum tuberosum L. Kentang termasuk tanaman setahun (annual) yang berbentuk herba, dengan susunan tubuh utama terdiri dari stolon, umbi, batang, daun, bunga, buah dan biji (Soelarso, 1997).

Buruknya Pemimpin adalah Cerminan Sebagian Besar Rakyatnya

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,
“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka

Menghadapi Pemimpin yang Zholim

Ibnu Abil ‘Izz mengatakan,
“Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezholiman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezholiman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah,

Klasifikasi, Morfologi dan Ekologi Buah Naga (Hylocereus costaricensis)



a) Taksonomi Buah Naga

Buah naga termasuk dalam kelompok tanaman kaktus atau famili Cactaceae dan Subfamili Hylocereanea. Adapun klasifikasi buah naga tersebut adalah Divisio: Embriophyta siponogama/ Spermathophyta (tumbuhan berbiji), Subdivisio: Angiospermae (biji tertutup), Classis: Dicotyledonae (berkeping dua), Ordo: Cactales, Famili: Cactaceae, Subfamili: Hylocereanea, Genus: Hylocereus, Species: Hylocereus undatus (daging putih), Hylocereus costaricensis (daging merah) (Lawrence, 1964).

b) Sejarah Buah Naga

Buah Naga telah lama dikenal oleh rakyat Tionghoa kuno sebagai buah yang membawa berkah. Karena biasanya buah naga

Informasi Kesehatan

loading...

Informasi Terbaru

Web Learning