Selamat Datang di Web Rizki, S.Si., M.P., Dosen Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Pembina mata kuliah Morfologi Tumbuhan, Taksonomi Tumbuhan Tinggi, Biologi Umum, Ekologi Tumbuhan, Pengantar Laboratorium, dan Pengantar Bioteknologi. email: khi_bio@yahoo.com dan khibio3@gmail.com

Sonneratia caseolaris (Pedada Merah)

Sonneratia adalah sejenis pohon penghuni rawa-rawa tepi sungai dan hutan bakau, sering didapati di hutan-hutan bakau di bagian yang bersalinitas rendah dan berlumpur dalam, di sepanjang tepian sungai dan juga di rawa-rawa yang masih dipengaruhi pasang surut air laut. Contoh species dari Sonneratia adalah S. caseolaris (Pidada merah), S. alba dan S. apetalae (Alwinsyah dkk, 2010).

Klasifikasi S. caseolaris ini menurut Backer (1963) adalah “Kingdom : plantae, sub kingdom : tracheobionta, super divisio : spermatophyta, divisio : magnoliophyta, classis : magnoliopsida, subclassis : rosidae, ordo : myrtales, familia : sonneratiaceae, genus : sonneratia, species : Sonneratia caseolaris (L.) Engler”. 

S. alba merupakan jenis yang sering dijumpai. Jenis ini biasanya tumbuh bersama dengan S. caseolaris. Sehingga sulit membedakan kedua jenis ini. Salah satu cara yang paling baik untuk membedakan kedua jenis ini adalah dengan melihat bunganya, dimana bunga S. alba kelopak bunganya membalik ke arah bawah sedangkan kelopak bunga S. caseolaris kelopak bunganya mendatar (Bengen, 2002)

S. caseolaris sering juga disebut dengan pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, rambai, wahat merah, dan posi-posi merah. Pohon ini dapat mencapai ketinggian 15 m, bahkan ada yang dapat mencapai 20 m. Memiliki akar nafas vertikal seperti kerucut (Tingginya dapat mencapai 1 m), akarnya banyak dan sangat kuat. Habitatnya di tepi muara sungai dan salinitas yang rendah. (Setiawan dkk, 2002). Bengen (2002) mengatakan, daun S. caseolaris berbentuk bulat dan berpasangan pada cabangnya, dengan panjang sekitar 7 cm. dimana pada bagian ujung daun agak melengkung ke bawah. Kulit batang berwarna abu-abu sampai coklat, dan agak retak-retak.

Bunga bulat telur, ketika mekar penuh, tabung kelopak bunga berbentuk mangkok. Terletak di ujung dengan susaunan berkelompok (1-3 bunga perkelompok). Mahkota berwarna merah, ukurannya 17-35 x 1,5-3,5 mm dan mudah rontok. Kelopak bunganya 6-8, bagian luar berwarna hijau didalamnya putih kekuningan hingga kehijauan (Noor dkk, 1999). Backer and Brink (1963) menambahkan, kelopak bunga halus, berwarna merah gelap, benang sari banyak, ujung benang sari putih dan pangkalnya merah, mudah rontok.

Buahnya seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Ukurannya lebih besar dari S. alba, bijinya lebih banyak (800-1200) dengan ukuran diameter 6-8 cm. Bijinya mengapung, dan perbungaannya terjadi sepanjang tahun (Noor dkk, 1999). Setiawan dkk (2002) mengatakan, S. caseolaris memiliki ciri khas yaitu tangkai daun tua merah muda-kemerahan, stamen merah dan putih, pneumatofora (akar) berkembang dengan baik, dengan ukuran sekitar 1 m, lebih panjang dari akar S. alba.

S. caseolaris tumbuh di bagian hutan mangrove yang kurang asin, pada tanah lumpur yang dalam, seringkali sepanjang sungai kecil dengan aliran air yang tidak deras dan terpengaruh oleh pasang surut. Dapat juga tumbuh di sepanjang sungai mulai dari bagian hulu dimana masih terpengaruh pasang surut, serta di areal yang masih di dominasi oleh air tawar (Noor dkk, 1999)

Setiawan dkk (2002) mengatakan bahwa, daerah penyebaran S. caseolaris ini terdapat di Afrika Timur sampai Australia, Kepulauan Salomon, Mikronesia, dan Kaledonia Baru. Selanjutnya Noor dkk (2002) juga mengatakan bahwa S. caseolaris ini terdapat di wilayah Sri Lanka, seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina.

Rizki ; Lusiana Eka Putri ; Irma Leilani

Informasi Kesehatan

loading...

Informasi Terbaru

Web Learning