Selamat Datang di Web Rizki, S.Si., M.P., Dosen Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Pembina mata kuliah Morfologi Tumbuhan, Taksonomi Tumbuhan Tinggi, Biologi Umum, Ekologi Tumbuhan, Pengantar Laboratorium, dan Pengantar Bioteknologi. email: khi_bio@yahoo.com dan khibio3@gmail.com

Struktur Hutan Mangrove

Mangrove umumnya tumbuh dalam 4 zona, yaitu:

a. Zona Api-Api dan Perepat

Terletak paling luar/jauh atau terdekat dengan laut, keadaan tanah berlumpur agak lembek (dangkal), sedikit bahan organik dan kadar garam agak tinggi. Zonasi ini biasanya didominasi oleh jenis Api-Api (Avicenna spp) dan Prepat (Sonneratia spp), biasanya berasosiasi dengan jenis bakau (Rhizophora spp).

b. Zona Bakau 

Biasanya terletak dibelakang Api-Api dan Prepat, keadaan tanah berlumpur lembek (dalam). Pada umumnya didominasi oleh jenis-jenis bakau (Rhizophora spp) dan di beberapa tempat dijumpai berasoisasi dengan jenis Bruguiera spp, Xylocarpus spp, dan Heritiera spp.

c. Zona Tanjang 

Terletak di belakang zona bakau, agak jauh dari laut dekat dengan daratan. Keadaan berlumpur agak keras, agak jauh dari garis pantai. Pada umumnya ditumbuhi jenis tanjang (Bruguiera spp), nyirih (Xylocarpus spp), dan di beberapa tempat berasosiasi dengan jenis Lumnitzera spp.

d. Zona Nipah

Terletak paling jauh dari laut atau paling dekat kearah darat. Zona ini mengandung air dengan salinitas sangat rendah , tanahnya keras, kurang dipengaruhi pasang surut, dan kebanyakan berada ditepi-tepi sungai dekat laut. Pada umumnya ditumbuhi jenis nipah (Nypa fruticans dan Deris spp).
(Purnobasuki (2005)

Pembagian kawasan mangrove menurut Arief (2007) berdasarkan perbedaan penggenangan yaitu :
  1. Zona Proksimal, yaitu kawasan yang terdekat dengan laut. Pada zona ini biasanya ditemukan jenis-jenis Rhizophora apiculata, R. mucronata dan S. alba.
  2. Zona middle, yaitu kawasan yang terletak di antara laut dan daratan. Pada zona ini biasanya ditemukan Sonneratia caseolaris, R. alba, B. gymnorrhiza, A. marina, A. officinalis dan Ceriops tagal.
  3. Zona distal, yaitu zona yang terjauh dari laut. Biasanya ditemukan jenis-jenis Heritiera littoralis, Pongamia, Pandanus spp., dan Hibiscus tiliaceus. 
Identifikasi zonasi mangrove didasarkan pada jenis mangrove atau kelompok jenis mangrove, dan dinamakan sesuai dengan jenis vegetasi yang dominan, yang tumbuh pada areal tertentu. Beberapa faktor penting yang dianggap paling berperan dalam pembentukan zonasi mangrove yaitu pasang surut air laut dan salinitas air serta tanah, tipe tanah yang berkorelasi langsung dengan aerase, drainase dan tinggi muka air, kadar garam air dan tanah, cahaya yang berkorelasi langsung dengan daya tumbuh semai, pasokan dan aliran air tawar (Anonimus, 2011a).

Chapman (1984) dalam Saparinto (2007) mengelompokkan mangrove menjadi dua, yaitu :

a. Vegetasi Mangrove Inti

Yaitu mangrove yang mempunyai peranan ekologi utama dalam formasi mangrove, seperti : Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Avicenna, Lumnitzera, Nypa dan Deris. 

b. Vegetasi Mangrove Pinggiran

Yaitu mangrove yang secara ekologi mempunyai peranan formasi mangrove tetapi juga berperan penting dalam formasi hutan lain, seperti : Cerbera, Acrostichum, Hibiscus, Heritlera dan sebagainya.

Tomlinson (1995) membagi flora mangrove menjadi tiga kelompok, yakni : 
  1. Flora Mangrove Mayor (flora mangrove sebenarnya), yaitu flora yang berkemampuan membentuk tegakan murni dan secara dominan mencirikan struktur komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus (bentuk akar dan viviparitas) terhadap lingkungan mangrove, dan mempunyai mekanisme fisiologis dalam mengontrol garam. Contohnya adalah Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Lumnitzera, Laguncularia dan Nypa. 
  2. Flora Mangrove Minor, yaitu flora mangrove yang tidak mampu membentuk tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam struktur komunitas, contoh : Excoecaria, Xylocarpus, Heritiera, Aegiceras. Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon, Scyphiphora, Pemphis, Osbornia dan Pelliciera. 
  3. Asosiasi Mangrove, contohnya adalah Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus, Calamus, dan lain-lain.
Kusmana (2002) dalam Suryani (2006) menyatakan bahwa ada enam tipe utama komunitas mangrove yang didasarkan atas lingkungan fisiografi, tipe-tipe tersebut adalah sebagai berikut :

a. Overwash Mangrove Forest

Hutan mangrove ini terdapat pada pulau kecil dan di daerah yang terbentuk dari massa tanah yang terakumulasi di teluk yang dangkal dan estuaria. Posisi hutannya lurus menghalangi aliran pasang, sering tergenang (overwash) oleh pasang dan banyak bahan organik yang tercuci serta tinggi tajuk maksimum hutan ini sekitar 7 meter.

b. Fringe Mangrove Forest

Hutan ini berbentuk rumbai tipis dilindungi oleh garis pantai dan pulau. Berkembang dengan baik di sepanjang garis pantai yang elevasinya lebih tinggi dari pasang rata-rata. Komunitas hutan ini menunjukkan zonasi, kecepatan datang dan surutnya pasang rendah, sistem akar tunjang berkembang baik, sedikit bahan organik yang terurai (karena banyak tempat terbuka di sepanjang pantai) dan kadang-kadang dipengaruhi oleh kekuatan angin sehingga hancuran dan hasil akumulasi hancuran relatif besar terdapat di antara akar tunjang.

c. Riverine Mangrove Forest

Hutan ini terjadi karena adanya hamparan lumpur di sepanjang aliran sungai dan teluk, dan memiliki tinggi pohon lebih dari 20 m serta biasanya dipengaruhi aliran pasang harian. Tipe hutan ini sering terdapat di depan fringe mangrove forest menempati lereng pada sisi teluk. Selama musim hujan salinitas menurun karena aliran air dari arah daratan. Kecepatan aliran air yang rendah menyebabkan aliran bahan organik di permukaan tanah dan redistribusi terhambat.

d. Basin Mangrove Forest

Hutan yang tinggi tajuknya mencapi 15 m ini terdapat di daerah pedalaman karena saluran drainase terdepresi oleh aliran permukaan tanah ke arah pantai. Penutupan tajuk di kawasan pesisir dipengaruhi oleh pasang harian dan umumnya didominasi oleh Rhizopora, distribusi tumbuhan ke arah darat juga dipengaruhi pasang dan didominasi oleh Avicennia.

e. Hummock Forest

Tipe hutan ini sama dengan tipe basin, hanya hutan ini terbentuk pada tanah dengan elevasi ringan (± 5-10 cm) dan daerah sekitarnya dengan deposit gambut.

f. Shurb atau Dwarf Forest

Pada tipe hutan ini jarang tumbuhan yang tingginya 1,5 kecuali tumbuhan yang tumbuh pada gambut mangrove. Umumnya pohon berumur empat tahun atau lebih, ketersedian nutrien terbatas walaupun subtrat yang mengandung kapur bisa berperan pada siklus nutrien.

Vegetasi hutan mangrove ada yang berbentuk pohon dengan ketinggian mencapai 35 m dan adapula yang berbentuk semak. Hutan mangrove ini terdiri dari bermacam-macam klasifikasi tumbuhan, dimana menurut Saparinto (2007) diperkirakan ada 89 spesies mangrove yang tumbuh di dunia, meliputi 31 genera dan 22 famili. Tumbuhan mangrove tersebut umumnya hidup di pantai Asia Tenggara, yaitu sekitar 74 spesies dan hanya 11 spesies yang hidup di daerah Caribbean. Sedangkan menurut Field (1995) dalam Setiawan dkk (2002), spesies mangrove sejati sekurang-kurangnya terdiri dari 17 familia, meliputi sekitar 80 spesies, dimana 50-60 diantaranya memberi kontribusi nyata dalam pembentukan hutan mangrove. 

Ciri-ciri tumbuhan yang terdapat di hutan mangrove ini, adalah tumbuhan berbentuk pohon dan semak dengan bentuk dan ukuran yang beragam, pada umumnya tumbuhan dikotil, kecuali Nypa fruticans, tumbuhan berpembuluh (vaskuler), dapat menggunakan air garam sebagai sumber air, daun keras, tebal, mengkilat, sukulen, memiliki jaringan penyimpan air dan garam, dapat mencegah masuknya sebagian besar garam ke dalam jaringan dan dapat mengekskresi atau menyimpan kelebihan garam, dapat menghasilkan biji yang berkecambah saat masih di pohon induk (vivipar) dan dapat tumbuh dengan cepat setelah jatuh dari pohon, serta dapat mengapung, akar dapat tumbuh pada tanah anaerob. Memiliki struktur akar tertentu (pneumatofora) yang menyerap oksigen pada saat surut dan mencegah kelebihan air pada saat pasang (Setiawan dkk, 2002).

Pembagian zonasi kawasan mangrove yang dipengaruhi adanya perbedaan penggenangan atau perbedaan salinitas meliputi :
  1. Zona garis pantai, yaitu kawasan yang berhadapan langsung dengan laut. Lebar zona ini sekitar 10-75 meter dari garis pantai dan biasanya ditemukan jenis Rhizophora stylosa, R. mucronata, Avicennia marina dan Sonneratia alba.
  2. Zona tengah, merupakan kawasan yang terletak di belakang zona garis pantai dan memiliki lumpur liat. Biasanya ditemukan jenis Rhizophora apiculata, Avicennia officinalis, Bruguiera cylindrica, B. gymnorrhiza, B. parviflora, B. sexangula, Ceriops tagal, Aegiceras corniculatum, Sonneratia caseolaris dan Lumnitzera littorea.
  3. Zona belakang, yaitu kawasan yang berbatasan dengan hutan darat. Jenis tumbuhan yang biasanya muncul antara lain Achantus ebracteatus, A. ilicifolius, Acrostichum aureum, A. speciosum. Jenis mangrove yang tumbuh adalah Heritiera littolaris, Xylocarpus granatum, Excoecaria agalocha, Nypa fruticans, Derris trifolia, Osbornea octodonta dan beberapa jenis tumbuhan yang biasa berasosiasi dengan mangrove antara lain Baringtonia asiatica, Cerbera manghas, Hibiscus tiliaceus, Ipomea pes-caprae, Melastoma candidum, Pandanus tectorius, Pongamia pinnata, Scaevola taccada dan Thespesia populnea.

Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi hutan mangrove menurut Purnobasuki (2005), yaitu :
a. Temperatur (Suhu)

Temperatur mempunyai pengaruh kritis terhadap proses hidup esensial tumbuhan, yang berperan dalam fotosintesis, respirasi, dan mengatur sejumlah besar proses-proses penggunaan energi internal. Temperatur yang baik bagi tumbuhan mangrove adalah 3-480 C.

b. Insolasi

Merupakan pengaruh radiasi sinar matahari terhadap tumbuhan (mangrove). Daun yang ternaungi jika dibandingkan dengan yang terkena sinar matahari akan memperlihatkan perbedaan, diantaranya: ukuran besar lebih kecil, lebih tebal, luas permukaan lebih besar, mempunyai stomata yang lebih banyak, kutikula sedikit. 

c. Angin dan Penguapan (Evaporasi)

Arah dan kecepatan angin dapat memodifikasi arus air laut, hal ini akan mempengaruhi gerakan materi dalam air laut sehingga berpengaruh pada pengambilan materi oleh mangrove.

d. Pasang surut

Pasang surut mempunyai beberapa pengaruh tidak langsung terhadap pertumbuhan dan produktivitas mangrove. Misalnya : dapat menentukan pengangkutan oksigen ke sistem akar, mempengaruhi pengendapan/erosi, dan secara fisik merubah sifat fisika-kimia tanah.

e. Salinitas Air Tanah

Mempunyai peranan penting dalam faktor penentu pengaturan tumbuhan dan kelulushidupan tumbuhan mangrove. Sainitas tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti genangan pasang, topografi, curah hujan, masukan air tawar dari sungai, run-off daratan, dan evaporasi.

f. Drainase/Aerasi

Aerasi tanah mempunyai kaitan erat dengan masukan oksigen untuk respirasi akar dan dipengaruhi oleh drainase.

Rizki ; Irma Leilani ; Lusiana Eka Putri

Informasi Kesehatan

loading...

Informasi Terbaru

Web Learning