Selamat Datang di Web Rizki, S.Si., M.P., Dosen Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Pembina mata kuliah Morfologi Tumbuhan, Taksonomi Tumbuhan Tinggi, Biologi Umum, Ekologi Tumbuhan, Pengantar Laboratorium, dan Pengantar Bioteknologi. email: khi_bio@yahoo.com dan khibio3@gmail.com

Hormon Pertumbuhan, Auksin, Giberellin dan Sitokinin

Rizki dan Juita Roseta Sari

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dikendalikan oleh substansi kimia yang konsentrasinya sangat rendah, yang disebut substansi pertumbuhan tanaman, hormon pertumbuhan fitohormon, atau pengatur pertumbuhan tanaman (plant growth regulators). Istilah hormon berasal dari fisiologi hewan, yang berarti suatu substansi yang disintesis dalam suatu organ yang pada gilirannya merangsang terjadinya respon pada organ yang lain (Franklin, 1991).
Menurut Lakitan (1995), Hormon tanaman adalah suatu senyawa organik yang disintesis dalam suatu bagian tanaman dan kemudian diangkut ke bagian tanaman yang lain dimana pada konsentrasi yang sangat rendah akan menyebabkan suatu dampak fisiologis. Hormon tersebut adalah auksin, giberellin dan sitokinin :

a. Auksin

Auksin memacu pertumbuhan potongan batang atau koleoptil melalui pengasaman dinding sel dan dengan mekanisme lain untuk pertumbuhan lebih lanjut. Pertumbuhan lebih lanjut membutuhkan pembentukan senyawa bahan baku dinding sel yang diransang oleh auksin, dan pengaruh rangsangan auksin untuk transkripsi protein upaya membentuk enzim yang berperan dalam meningkatakan sintesis dinding sel, tetapi pertumbuhan sel membutuhkan lebih dari sintesis dinding sel. Selain itu, diperlukan sintesis membran plasma (lipid dan protein), karena membran tumbuh sepadan dengan pertumbuhan dinding sel. 

b. Giberellin

Respon terhadap GA menurut Franklin :

1. Keseluruhan tanaman yang kerdil secara genetik akan memanjangkan batang pada antar bukunya sehingga tinggi seperti tanaman normal apabila diberi perlakuan dengan GA, namun potongan tanaman umumnya tidak memberikan respon.

2. Kebanyakan kultivar dan spesies tanaman mempunyai kandungan BA endogen yang cukup dan tidak merespons terhadap Gas yang sumbernya eksogen. Tanaman yang kerdil secara genetik , terutama kerdil karena satu-gen, merespons terhadap GA3 sebagai sumber eksogen (Phinney, 1956).

3. Respon positif terhadap GA terjadi dalam kisaran konsentrasi yang luas, berlawanan dengan respons terhadap auksin yaitu hanya dalam kisaran konsentrasi yang sempit. Jadi, bahkan kandungan GA yang tinggi tidak bersifat racun dan tidak menimbulkan respons atau menyebabkan respons negatif, kecuali pada tanaman kerdil yang peka, sedangkan konsentrasi auksin yang tinggi merupakan herbisida yang efektif. 

c. Sitokinin

Sitokinin (kinin) merupakan nama generik untuk pertumbuhan substansi yang khususnya merangsang pembelahan sel (sitokinesis). Sitokinin ditemukan pertama pada tahun 1950-an melalui pengamatan dalam laboratorium Skoog, yaitu pengamatan pembelahan sel dalam kalus yang ditumbuhkan dari empulur tembakau atau floem akar wortel (Franklin, 1991). 

Menurut Lakitan (1995), Kebanyakan kasus aksi sitokinin, misalnya dalam memacu pertumbuhan, tampaknya terletak pada translasi sebagaimana dibuktikan dengan peningkatan polisom, penyatuan yang lebih cepat dari asam-asam amino untuk membentuk protein, dan penghambatan pengaruh fisiologis sitokinin oleh senyawa penghambat sintesis protein. Pembentukan protein khusus pada sel-sel yang diberi perlakuan sitokinin sejalan dengan anggapan bahwa perkembangan khloroplast terpacu karena pembentukan satu atau lebih protein yang mengikat khlorofil. Pengaruh rangsangan sitokinin terhadap transkripsi (mengakibatkan terbentuknya mRNA atau jenis RNA lainnya) tidak bersifat umum, tetapi penting dalam penundaan penuaan daun yang telah dipetik.
>

Informasi Kesehatan

loading...

Informasi Terbaru

Web Learning